Tampilkan postingan dengan label coretan pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan pribadi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2015

Aku Berhenti Mengabaikanmu

Tuhan sedang mengujiku lagi 

Kali ini aku tak  ingin bertanya  mengapa

Biarlah jawaban menemuiku satu saat nanti

Tanpa pertu ada pertanyaan sebelumnya

Aku tidak akan mengeluhkan apapun untuk saat ini

Aku menerimanya.

Seperti seorang nelayan yang mematikan mesin perahu saat gelombang datang

Aku pun akan bersikap demikian.

Biar kuikuti gelombangnya

Tanpa pertanyaan dan tanpa penolakan.

Owh..Dear

Aku berhenti mengabaikaanmu sekarang

Pengabaianku selama ini tak membuahkan hasil

Semuanya semakin menjadi-jadi

Terlalu banyak masalah yang kuhadapi saat mengabaiakanmu.

Itulah sebab mengapa aku harus berhenti

Mungkin memang aku harus lebih peka

Aku akan berusaha untuk mengembalikan semuanya seperti semula

Meskipun itu tak akan  mudah.

Bagaiaman mungkin bisa terlihat murah,

Jika karenamu aku harus melepaskan hal yang kusukai

Berkutat dengan pena dan kertas.

Aku akan bersabar menunggu takdir yang akan membuat semuanya kembali menjadi baik-baik saja

Seperi di tiga ratus lima puluh lima  hari yang lalu.

Aku  berhenti mengabaiakanmu.

Kutegaskan itu sekali lagi.


*Kutulis untuk satu yang sangat berharaga. Satu dari sekian nikmat Tuhan yang membawaku menjelajah semesta.

Rabu, 28 Januari 2015

Berbagi Sekeping Logam


Gambar diambil dari ( sumber )

Sekeping uang logam membawaku pada sebuah kenangan manis berbagi kasih. Tentang seperti apa rasanya nikmat berbagi dengan saudara.

Empat belas tahun yang lalu,ketika itu aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Dan kakaku waktu itu kelas lima sekolah dasar. Kami hanya terpaut tiga tahun saja. Itu pula yang menyebabkan kami sering bertengkar dulu. Bahkan hanya karena hal-hal sepele seperti potongan telur dadar yang tak sama.

Kami banyak bertengkar, kecuali untuk yang satu ini. Uang logam.
Ada cerita yang masih terus teringat olehku sampai saat ini. Waktu itu, sekitar tahun 2000-an . Ayah kami, bekerja sebagi buruh tani dan kadang-kadang menjadi kuli bangunan sewaktu-waktu. Pagi sebelum berangkat sekolah, kami terkadang diberi uang jajan oleh ibu. Dan tahun itu, adalah tahun terakhir ibu rutin memberi kami uang jajan setiap hari, karena di tahun berikutnya tak setiap hari kami bisa mendapatkan uang jajan. 

Suatu hari ibu memberi kami sekeping uang logam lima ratus. Biasanya, uang logam untuk bekal kami sudah berupa kepingan uang seratusan . Dan kami mendpatkan jumlah yang sama besarnya. Kemudian, sekeping uang logam itu tampak berubah menjadi masalah besar bagiku, bagaimana cara mebaginya?
Lantas, aku bertanya pada kakaku 'bagaimana caranya membagi sekeping uang logam ini?'
Selanjutnya,kakaku memberi jawaban dan penjelasan yang sederhana. (waktuitu uang logam dengan nilai lima puluh rupiah sudah jarang, dan di warung dekat sekolah kami pun tak ada jajajnan yang bernilai lima puluh ru[piah).
'Hari ini kamu dapat bagian dua ratus rupiah dan kakak tiga ratus. Besoknya kita gantian, kamu yang dapet tiga ratus dan kakak dua ratus.'
Selesailah masalah.

Jadi, ketika jam istirahat sekitar jam sepuluh pagi aku membelanjakan uang itu sejumlah dua ratus dan sisanya kusimpan untuk kakakku yang akan mengambilnya kekelasku.

Terkadang ada hari dimana kami tak mesti berbagi sekeping lima ratus itu, tapi tak pernah ada pertengkaran yang terjadi karena masalah pergantian dua ratus dan tiga ratus itu.

Empat belas tahun berlalu, dan kami sudah memiliki kehidupan masing-masing. Kakakku sudah menikah dan mempunyai seorang anak perempuan dari pernikahannya. Tak pernah ada lagi cerita berbagi sekeping uang logam, bahkan untuk sekedar berbagi ceritapun kami tak sempat. Bukan waktu yang membatasinya, tapi hati yang membuat semuanya menjadi jauh lebih baik dipendam sendiri. 

Sesekali aku rindu berbagi dengannya.


Senin, 19 Januari 2015

Sepatu




Sepatu.
Dua stengah tahun aku bekerja di sebuah pabrik sepatu di wilayanh Tangerang dan baru mengundurkan diri di akhir tahun 2013. Aku bekerja sebagai operator produksi di pabrik ini. Strata terendah dalam sebuah industri. Karena memang, hanya itulah yang tersedia untuk seorang anak yang baru lulus sekolah. Menurut pandanganku.

Dua setengah tahun, pahit manis telah kulewati disana. Tapi ini bukan tentang cerita pembuatan sepatu. Ini akan bercerita tentang pengalamanku bersama sebuah benda bernama SEPATU.

Aku lahir di keluarga dengan tingkat pendapatan rendah. Ayahku seorang petani yang mengurus satu dua petak sawah. Jika memang beruntung, terkadang ada yang mengajaknya menjadi kuli bangunan. Ketika aku kecil dulu itu adalah pekerjaan terkeren ayahku. Bagaiman tidak,beliau akan pergi bekerja di Jakarta,itu hebat sekali bukan. Dan ketika beliau pulang, dia akan membawakan kami oleh-oleh berupa satu kilogram jeruk. Itupun sudah cukup membahagiakan.

Dulu sekali, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, kenaikan kelas adalah momen dimana semua perlengkapan sekolah yang lama akan berganti menjadi pelengkapan sekolah baru. Bagi yang mampu. Sayangnya, aku tidak selalu masuk dalam golongan yang satu ini. Tak setiap ajaran baru aku beruntung dapat berganti perlengkapan sekolah yang baru. Aku tak ingat detail berapa kali dalam enam tahun ada yang baru yang kupakai.

Aku, adalah tipe manusia yang akan mudah sekali melupakan hal-hal manis berupa sebuah kebahagiaan dan akan selalu mengingat hari-hari buruk yang pernah kulewati. Itu sebanya, aku sudah lama ingin menuliskan hal ini, sepatu dan hari burukku.

Ketika musim penghujan datang,aku melewati hari-hari terburukku. Bahkan sebelum aku bisa mencela hujan itu sendiri. Bagaimana tidak, ketika musim penghujan datang aku harus bersiap untuk memakai sepatu yang bau asap. Kenapa demikian. Karena aku hanya punya sepasang sepatu. Hanya satu pasang saja. Jadi ketika hari hujan dan aku terpaksa pulang hujan-hujanan yang terjadi selanjutnya adalah sepatuku basah. Dan karena hanya punya sepasang saja, sesampainya dirumah aku akan mengeringkan sepatu itu didepan api tungku ketika ibuku sedang memasak. Keesokan paginya, jika beruntung sepatu itu kering, namun tak jarang sepatunya tak kering sempurna. Jadilah aku berangkat sekolah dengan sepatu basah yang bau asap. Basah saja tak mengapa, tapi terkadang  kesedihanku bertambah ketika aku menyadari bahwa alas kakiku itu ternyata sudah bolong. Tepat di bagian tumit, karena intensitas gesekan yang tak sebentar antara sepatu dan aspal jalanan. Ada satu ketika, diamana aku melihat sepatuku yang sedikit terbuka pada bagian sisi-sisi yang dilem. 

Berapa harga sepatu waktu itu?
Aku bisa mengingatnya angka rupiahnya dengan baik . Dua puluh lima ribu rupiah untuk sepatu dengan merk ATT dan tiga puluh ribu rupiah dengan merk NB. Jumlah rupiah yang sedikit jika aku menilainya di hari ini. Tapi di dua belas tahun yang lalu, uang sejumlah itu sama dengan upah mencangkul ayahku selama dua hari. Jika uang itu digunakan untuk membeli sepatu, lalu bagaimana dengan perut kami sekeluraga. Dan lagi, tak setiap hari juga ayahku mendapatkan unag. Itulah sebab aku hanya bisa berpasrah pada kenyataan yang ada. Melewati satu tahun kedepan dengan sepatu yang sama di tahun sebelumnya.

Mengingatnya, aku bisa mengasihani diriku sendiri, Seorang anak perempuan kecil dengan sepatu yang sama sepanjang tahun, bahkan berlanjut di tahun berikutnya. Tak pernah ada yang spesial di tahun ajaran baru, meskipun dia telah berhasil masuk rangking tiga besar dikelasnya. Itulah sebab kenapa aku tak menjadi seseorang yang ambisius, sampai sekarang. Apalah gunanya berprestasi jika tak ada penghargaan.


Sabtu, 17 Januari 2015

Majikan Perempuan



Apa yang paling sering dilakukan oleh seorang perempuan?

Kita ini, kaum perempuan pandai sekali untuk urusan mengeluarkan suara. Senag sekali mengomel.

Aku tidak sedang men-judge siapapun. Karena aku sendiripun seorang perempuan. Tulisan ini tiba-tiba saja terpikir olehku ketika majikanku melakukan hal yang biasa dia lakukan.  Teriak.

Dia, majikanku. Dan dia seorang perempuan. Punya uang banyak. Aku bisa mengilustrasikan sedikit tentangnya. Seorag perempuan, yang lahir dari keluarga yang memang punya nasib sangat baik dalam hal keuangan. Tak pernah kekurangan harta, tak pernah menggunakan angkutan umum. Buatnya, ketika dia punya uang semuanya akan selesai. Hidup itu, yang penting punya banyak uang. Apapun bisa dilakuakan.

Sebenarnya, aku sudah lama gregetan sekali ingin menuliskan tentang dia. Jadi biar kutuliskan sekarang. agar tak memenuhi kepalaku lagi.

Kembali lagi padanya, yang punya banyak uang. Yang tak pernah hidup melarat.
Aku tak memungkiri dia baik. Hanya saja, dia memiliki sifat jelek. Manusiawi. Jadi yang kupaparkan juga akan terlihat manusiawi. Tidak di dramatisir.

Tahun kemarin, adalah tahun pertamanya membawahi kami. Ikut campur pada urusan usaha yang dilakukan suaminya. Tugasnya meng-handle masalah keuangan.
Dan ketika dia datang, banyak dari pegawai yang mengeluhkan keberadaannya. Dia senag sekali mengeluarkan suara, menghambur-hamburkan suara saat emosi. Itu manusiawi, sifat mendasar dari seorang perempuan. Hanya saja, mungkin ada baiknya jnika dia sedikit mengontrol omongannya.  Dan karena sifatnya itu, banyak pekerja yang keluar.

'Kalau memang sudah tak mau kerja tinggal keluar saja. Tak usahlah takut. Saya yang punya uang, kenapa pula saya yang harus takut pada karyawan. Selama masih ada uang, saya masih bisa cari orang yang mau bekerja disini.'

Itu adalah kalimat yang sering kutemui ketika dia menghadapi masalah pekerjanya yang meminta kenaikan gaji atau mengundurkan diri atau memang ada konflik dengannya.
Ucapannya memang tak sepenuhnya salah. Tapi, lagi-lagi alangkah baiknya jika dia bisa lebih sedikit menghargai orang lain. Dia memang punya uang, tapi unag saja tak kan pernah cukup untuk mencari seorang pekerja yang baik, jujur dan setia. Akan sulit menemukan orang yang bisa menerima keadaan perusahaannya apa adanya. Semua pekerja mempunyai bebannya sendiri. Mempunyai tanggung jawab yang berbeda-beda. Jika aku tak pernah mengusik masalah uang bukan berarti aku merasa sudah berlebihan. Dan adalah wajar jiak pekerja menginginkan kenaikan upah. Harga bahan makanan saja sekarang sudah naik bukan?

Kami selalu menyimpulkan, majikan perempuan kami ini memang terlalu arogan. Kadang-kadang. Tak pernah menyadri jika dia pun ,memang membutuhkan orang yang bisa dipekerjakannya.Dan bisa bertahan untuk waktu yang cukup lama.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan satu kalimat dari seseorang.
'Nyari orang yang mau kerja di kita itu gampang, yang sulit adalah mencari orang yang betah bekerja dengan kita. Karyawan akan nyaman, jika majikannya bisa memahami karyawannya..'


Kamis, 15 Januari 2015

Skenario



Ini buklan postingan tentang bagaiamna cara membuat skenario, karena aku buta akan hal ini. Hanya sebuah judul yang muncul atas sebuah perenuangan. Begini ceritanya,

Salah satu hal yang paling sering kulakujkan adalah menonton televisi. Aku menyukai layar kaca itu dari dulu dan masih seperti itu sampai sekarang. Hanya orientasi program saja yang berbeda.

Dan satu tahun belakangna ini, aku menyukai serial  drama korea yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Karena sifatku yang tidak sabaran untuk menunggu tayangan per-episodenya, aku terbiasa membaca sinopsis yang memang bisanya bertebaran di banyak laman bloger. 

Baru-baru ini, aku sedang menggandrungi serial TV  yang berasal dari India. Mahabarata, Ramyanan, Jodha Akbar. Untuk kisah Mahabarata dan Ramayana, aku sudah mengetahui ending dari ceritanya,karena merupakan kisah pewayangan yang terkenal. Dan untuk Jodha Akbar, aku buta tentang kisah satu ini. Tak pernah mendengarnya, apalagi membacanya.

Membaca. Itu sudah jadi kebisaanku. Kesenanganku. Dan tentang kesenangan membaca sinopsis drama, itu juga terjadi padaku saat ini. Saat sedang berlangsungnya drama serial Jodha Akbar. Pada awalnya, aku hany membaca kisah singkatnya saja, tapi kemudian baru-baru ini aku menemukan bloger yang menulis sinopsis lengkapnya per episode. Sebuah penemuan yang menyenangkan. Awalnya.

Kenapa demikian?
Karena tadi malam aku baru menyadarinya, saat aku sudah membaca sinopsisnya aku menjadi tahu keseluruhan ceritanya. Dan aku mengetahuinya, bukan karena menontonnya. Aku mengetahui kejadian per kejadiannya lewat membaca. Kupikir menyenangkan, ketika aku tahu apa yang akan ditayangkan televisi hari ini, besok dan sepekan mendatang. Sayangnya tidak. Aku kehilangan rasa. 

Sebelum membaca sinopsisnya, aku selalu menantikan jam tayang serial ini. Menunggu dengan sabar setiap harinya. Berharap siang cepat berganti malam. Seperti orang yang sdang jatuh cinta. Ingin selalu cepat-cepat berjumpa. Saat serial ditayangkan, aku memperhatikannya dengan cermat, plotnya, akting pemerannya.  Dan disaat aku beranjak tidur, aku akan mengingat, apa yang aku lihat di episode malam ini, dan menerka-nerka apa yang akan ditayangkan esok hari. Ada sebuah rasa yang tak bisa kugambarkan untuk sebuah penantian dua puluh empat jam.

Tadi malam, aku kehilangan rasa yang pernah kumiliki, kehilangan rasa ingin menikmati plot ceritanya, aktingnya.Kehilangan sensasi menerka-nerka tayangan besok malam. Detik itu, aku mmenyadari satu hal. 'Aku kehilangan kesenangan menikmati tayangan, menikmati cerita, dan menikmati sensasi imajinasiku.' Karena satu hal, terlalu rajin membaca.

Kehilangan rasa tersebut membawaku pada sebuah perenungan. Apa yang akan terjadi jika saja aku mengetahui semua skenario yang Tuhan tuliskan untukku. Apa jadinya, jika aku mengetahui kejadian-kejadian pa saja yang akan kulewati esok hari. Akhir seperti apakah  yang kudapat di penghujung ajalaku. Selintas mungkin seperti hal menyenangkan, Tapi jika direnungkan lebih dalam, tidak.

Apa menyenangkannya mengetahui masa depan?
Saat kita tahu, bahkan hapal mati masa depan kita seperti apa, kita akan kehilangan satu kegiatan menyenangkan. Berimajinasi. Kita kehialangan rasa yang hadir saat kita berangan tentang hari esok. Tentang pertemuan dengan teman hidup. Kita tak kan punya impian. Karenna kita memang sudah tahu, akan seperti apa hari esok itu, Tak kan ada imajinasi liar tentang masa depan. Tak  kan ada angan-angan tentang pertemuan kembali dengan cinta pertama. Tak bisa menerka-nerka pria seperti apakah yang akan membuat kita jatuh cinta esok hari. 

Membosankan bukan, jika masa depan itu diketahui di hari ini.

Jadi, aku lebih menyukai jadi seseorang yang hanya tahu tentang masa lalu. Bukan masa depan. Karena aku ingin tetap berimaji dengan masa depanku. Tentang pertemuan-pertemuan yang menyenagkan. Tentang jodoh yang sudah dipersiapkan. Tentang keluarga dimasa depan. Aku menikamati kegitan menerka-nerka semuanya. Jika toh, nantinya tak sesuai yang diangankan  tak kan jadi masalah. Karena bahagia bukan berasal dari apa yang kita dapatkan. Bahagia itu, ada di dalam hati, dan semuanya tentang penerimaan.

Terimakasih,

Rabu, 14 Januari 2015

Rencana



Rencana,
Catatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan bucketlist. Meskipun ini memang masih awal tahun.
Ini adalah tentang hal-hal yag telah terlewat. Hari-hari di masa yang tak terlampau lama,tapi jelas bukan di tahun ini kejadiannya.

Dalam banyak kesempatan, aku lebih sering berpergian dengan terburu-buru. Maksudnya disisni adalah, semua perjalannku tak pernah direncanakan sebelumnya. Terpikir di hari itu, dan pergi di hari itu juga. Atau setidaknya, ada jarak satu sampai tiga hari hingga hari eksekusi tiba.

Oktober2013

Hari minggu pagi di awal bulan kesepuluh, aku melihat sebuah post di Twitter yang kurang lebih isisnya tentang Book Fair. Hadir penulis-penulis Gagasmedia yang menulis serial STPC (Setiap Tempat Punya Cerita). Hari itu, adalah awal dari banyak perjalanan yang kulakukan berikutnya.
Hari itu adalah hari dimana sebuah harapan yang hanya kukatakan di dalam hati menjadi kenyataan di akhir tahunnya. Dua tahun lebih tinggal di sebuah kota yang berbatasan langsung dengan ibukota tak berarti aku mengenal dengan baik tujuanku. FX Sudirman. Setelah sempat salah turun di shelter busway yang salah  karena kesalahpahaman penyebutan nama, tibalah aku di sana.
Seperti apa gambaranku tentang FX ? entahlah. Saat itu rasanya, aku seperti salah masuk. Ini bukan tempatku,belum layak kumasuki tepatnya. Sebuah gedung yang didalamnya terlalu banyak kafe. Tempat tongkrongan yang asik, jika punya penghasilan minimal lima juta perbulan.
Balik ke tujuan, aku disana untuk bertemu penulis. Meskipun aku sebenarnya tak tahu satupun dari karya-karya mereka. Jika tak salah ingat waktu itu diatas panggung ada lima penulis. Prisca Primasari, Windry Ramadhina,Sefrina Khairil,Robin Wijaya dan Moemoe Rizal.
Yang terakhir, adalah favoritku (omong-omong, itu karena dia sudah folback aku).
Hari itu aku membeli tiga novel, Remember When,Last Minute in Manhattan,dan Bangkok.
Novel yang terakhir, adalah  dia yang membawaku menikmati santap siang di 'Grasshopper Thai' bersama dengan penulis dan editor. Pengalaman yang teramat menyenangkan,hari itu  membuatku yakin untuk terus memupuk impianku menjadi seorang 'penulis'.
Sore itu, sepulang dari restoran Thailand di daerah setiabudi aku menikamti gerimis dengan cara yang berbeda. Harapan.
Gerimis yang turun kali itu, datang bersamaan dengan hadirnya harapan baru yang akan menemani hari-hariku berikutnya.


April 2014

Ini kali pertama aku menyaksikan stand up langsung. Setelah setahun belakangan hanya melihatnya melalu layar televisi. Bertemapt di kampus Mercu Buana. Stand Up Nite Jakbar. Sebuah acara yang di gelar untuk sebuah perayaan ulang tahun terbentuknya komunitas Stand Up Indo Jakbar.
Disana aku bisa melihat langsung seperti apa Ge Pamungkas, dan mendengar bit-bit tanpa editing. Menyenangkan sekali, saat tawa bisa pecah.

Juni 2014

Tempat yang kukunjungi di akhir bulan itu adlah 'Jakarta Book Fair' yang bertempat di Istora Senayan, Jakarta. Perjalanaku kali itu, mengenalkanku pada seorang penulis yang blog nya sudah kuikuti beberapa bulan sebelumya. Alit Susanto. Darinya aku mendapatkan ilmu kepenulisan, lagi. Rasanya tak ada yang lebih menyenagkan dari mendapatkan ilmu baru,
Dan hari itu, aku membeli dua novel karya Sidney Sheldon. Salah satu penulis luar favoritku. Novel bekas, dengan harga yang sangat murah. Aku menykai event ini. Diskon buku dimana-mana. Membuatku lupa pada rupiah yang kumiliki untuk jatah membeli buku. Karena hidupku, memang tak melulu tentang membeli novel.

Juli 2014
#Project Happy @KopiKeliling
Pertama kalinya, aku menjadi volunteer pada sebuah acara, Menarik. Karena sebelumya aku tak tahu sama sekali seperti apa acaranya. Hanya mencoba, lalu kemudian beruntung.
Malam itu, aku melihat seni lukis dari sudaut pandang yang berbeda. Bukan hanya tentang bakat, dan kemauan. Tapi juga tentang pelukis itu sendiri. Idealis dan realistis, begitu kata kak Uniss,nama lengkapnya Nurkhareunnisa. Dia adalah pelukis pertama yang memulai obrolan denganku.
Tugasku adalah menjadi Guest / Artist LO. Tanggungjawabku, memastikan artist/ pelukis itu ada dipanggung utama saat tiba gilirannya menjelaskan konsep dari karyanya.
Aku, menerima file potret para artist tiga puluh menit sebelumnya. Dan itu menyulitkanku untuk mengenali mereka satu persatu.
Perjalanan hari itu, membawakau pada perbincangan-perbincangan menarik seputar awal karir para pelukis-pelukis itu. Juga tentang konsep karyya mereka, aliran mereka da juga materi yang mereka gunakan untuk karyanya.
Lagi-lahi, aku di buat kagum pada sesuatu hal bernama 'Karya Seni'
                                                     ***
Sbenarnya, ada banyak lagi perjalanan yang kulakukan tanpa perencanaan sebelumnya. Malah seringnya, perjalanan tak terencana itulah yang bisa kuwujudka, Sedangkan perjalanan yang direncanakan seringnya mengalami gangguan di hari H.

Mungkin, memang perjalanan tak terencana itulah sebenar-benarnya perjalanan yang sudah di persiapkan Tuhan untukku. Bukan perjalanan yang kurencanakan.