Rabu, 21 Januari 2015

Hujan



Hujan.
Ada banyak orang yang menyukainya, tidak hanya anak-anak. Dan semua punya alasan untuk menyukainya, baik itu sebagai sebuah kesenangan ataupun kesediahn. Di musim penghujan seperti sekarang, aku bisa menemukan banyak cerita tentang hujan di semiua linimasa. Suka dan duka. Meskipun, cerita yang menggambarkan luka lebih banyak bermunculan, entah apa sebab hujan selalu disandingkan dengan sesuatu bernama kesedihan. Entah itu kehilangan, penolakan, pengabaian ataupun perpisahan. Hujan benyak menggambarkan kesedihan di banyak tulisan.

Dan aku sendiri, banyak menyimpan hujan dalam sebuah catatan menyedihkan. Sebuah penolakan dan pengabaian.
Hujan selau bisa menggenapkan sebuah kesedihan yang tiba-tiba saja hadir, atau memang sengaja dihadirkan.

Ada beberapa perjalanan yang kuhabiskan setelah hujan mengecil. Gerimis di akhir cerita hujan.
Sebuah pengalaman baru, entah itu bahagia ataupun nestapa.
Gerimis pernah menemaniku dalam sebuah perjalanan Setiabudi-Jl. Suci. Kampus UNPAD Jatinangor-Jl.Suci. Jl. Moh. Kahfi-Tangerang.
Dua dari perjalanan itu mengangkat semua harapanku, dan satunya menjatuhkan impianku. Aku dan gerimis, pernah berjumpa dalam sebuah harapan, entah itu yang membangkitkanku ataupun menjatuhkanku.

Aku tak begitu menyukai hujan, terutama jejak yang dia tingglakan. Genangan air dimana-mana. Lumpur basah. Jejak kaki yang terlalu jelas.
Tapi dia juga teramat berjasa untuk ayahku. Membasahi sepetak tanah kami. Memberi harapan baru, sebuah keberlanjutan kehidupan.

Aku tak menyukainya, tapi akupun tak bisa untuk membencinya. Karena dia terlalu baik.


Selasa, 20 Januari 2015

Novel Rembulan Tenggelam Wajahmu



Ini adalah post quote yang saya kumpulkan dari novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu


  • Kehidupan ini tidak sia-sia. Besar kecil semua berarti
  • Hidup ini sebab akibat. Bagi manusia sebab akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan oarng lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi. Kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali ke garis kehidupanmu. Saling mempengaruhi,saling berinteraksi.
  • Sejatinya dengan mengerti bahwa setiap potongan hidup ini penting,maka seseorang tidak akan banyak bertanya tentang setiap kejadian yang dihadapinya.
  • Siklus sebab akibat itu sudah ditentukan.Tidak ada yang bisa merubahnya, kecuali satu. Yaitu kebaikan,kebaikan bisa merubah takdir.
  • Tidak ada yang pergi dari hati,tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan.
  • Tidak ada cara buruk untuk berbuat baik.
  • Kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan dari orang lain itu sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi.
  • Kehidupan ini selalu adil, keadilan langit mengambil berbaai bentuk. Meski tidak semua bentuk kita kenali.
  • Kejadian buruk itu datang sesuai takdir langit, hanya ada satu hal yang bisa mencegahnya. Satu hal, yaitu berbagi. Sebenarnya berbagi tidak bisa mencegahnya secara langsung, tetapi dengan berbagi kau akan membuat hatimu damai. Hanya orang-orang dengan hati damailah yang bisa menerima setiap kejadian buruk yang ada.
  • Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah. Cara terbaikl untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi, bukan dari sisi yang ditinggalkan.
  • Seseorang yang memiliki tujuan hidup, maka baginya tidak akan ada pertanyaan tentang kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan darinya, kenapa dia harus dilemparkan lagi ke kesedihan. Baginya semua proses yang dialamimenyakitkan atau menyenangkan semuanya untuk menjemput tujuan itu

Senin, 19 Januari 2015

Sepatu




Sepatu.
Dua stengah tahun aku bekerja di sebuah pabrik sepatu di wilayanh Tangerang dan baru mengundurkan diri di akhir tahun 2013. Aku bekerja sebagai operator produksi di pabrik ini. Strata terendah dalam sebuah industri. Karena memang, hanya itulah yang tersedia untuk seorang anak yang baru lulus sekolah. Menurut pandanganku.

Dua setengah tahun, pahit manis telah kulewati disana. Tapi ini bukan tentang cerita pembuatan sepatu. Ini akan bercerita tentang pengalamanku bersama sebuah benda bernama SEPATU.

Aku lahir di keluarga dengan tingkat pendapatan rendah. Ayahku seorang petani yang mengurus satu dua petak sawah. Jika memang beruntung, terkadang ada yang mengajaknya menjadi kuli bangunan. Ketika aku kecil dulu itu adalah pekerjaan terkeren ayahku. Bagaiman tidak,beliau akan pergi bekerja di Jakarta,itu hebat sekali bukan. Dan ketika beliau pulang, dia akan membawakan kami oleh-oleh berupa satu kilogram jeruk. Itupun sudah cukup membahagiakan.

Dulu sekali, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, kenaikan kelas adalah momen dimana semua perlengkapan sekolah yang lama akan berganti menjadi pelengkapan sekolah baru. Bagi yang mampu. Sayangnya, aku tidak selalu masuk dalam golongan yang satu ini. Tak setiap ajaran baru aku beruntung dapat berganti perlengkapan sekolah yang baru. Aku tak ingat detail berapa kali dalam enam tahun ada yang baru yang kupakai.

Aku, adalah tipe manusia yang akan mudah sekali melupakan hal-hal manis berupa sebuah kebahagiaan dan akan selalu mengingat hari-hari buruk yang pernah kulewati. Itu sebanya, aku sudah lama ingin menuliskan hal ini, sepatu dan hari burukku.

Ketika musim penghujan datang,aku melewati hari-hari terburukku. Bahkan sebelum aku bisa mencela hujan itu sendiri. Bagaimana tidak, ketika musim penghujan datang aku harus bersiap untuk memakai sepatu yang bau asap. Kenapa demikian. Karena aku hanya punya sepasang sepatu. Hanya satu pasang saja. Jadi ketika hari hujan dan aku terpaksa pulang hujan-hujanan yang terjadi selanjutnya adalah sepatuku basah. Dan karena hanya punya sepasang saja, sesampainya dirumah aku akan mengeringkan sepatu itu didepan api tungku ketika ibuku sedang memasak. Keesokan paginya, jika beruntung sepatu itu kering, namun tak jarang sepatunya tak kering sempurna. Jadilah aku berangkat sekolah dengan sepatu basah yang bau asap. Basah saja tak mengapa, tapi terkadang  kesedihanku bertambah ketika aku menyadari bahwa alas kakiku itu ternyata sudah bolong. Tepat di bagian tumit, karena intensitas gesekan yang tak sebentar antara sepatu dan aspal jalanan. Ada satu ketika, diamana aku melihat sepatuku yang sedikit terbuka pada bagian sisi-sisi yang dilem. 

Berapa harga sepatu waktu itu?
Aku bisa mengingatnya angka rupiahnya dengan baik . Dua puluh lima ribu rupiah untuk sepatu dengan merk ATT dan tiga puluh ribu rupiah dengan merk NB. Jumlah rupiah yang sedikit jika aku menilainya di hari ini. Tapi di dua belas tahun yang lalu, uang sejumlah itu sama dengan upah mencangkul ayahku selama dua hari. Jika uang itu digunakan untuk membeli sepatu, lalu bagaimana dengan perut kami sekeluraga. Dan lagi, tak setiap hari juga ayahku mendapatkan unag. Itulah sebab aku hanya bisa berpasrah pada kenyataan yang ada. Melewati satu tahun kedepan dengan sepatu yang sama di tahun sebelumnya.

Mengingatnya, aku bisa mengasihani diriku sendiri, Seorang anak perempuan kecil dengan sepatu yang sama sepanjang tahun, bahkan berlanjut di tahun berikutnya. Tak pernah ada yang spesial di tahun ajaran baru, meskipun dia telah berhasil masuk rangking tiga besar dikelasnya. Itulah sebab kenapa aku tak menjadi seseorang yang ambisius, sampai sekarang. Apalah gunanya berprestasi jika tak ada penghargaan.


Minggu, 18 Januari 2015

Surat Untuk Ayah



Selamat pagi,
Mungkin surat ini tak akan pernah sampai kepadamu. Tapi aku tetap ingin menuliskannya.

Kudengar kau sedang sakit, Penyakit asam uratmu kambuh. Semoga Tuahan cepat memberimu kesembuhan.

Ayah,
Aku tak mengenalmu dengan baik, kecuali sifatmu yag terkadang seperti seorang 'ibu-ibu' ketika mengeluh. Aku membenci sifatmu yang satu itu. Ketika kau mengeluhkan banyak hal,kesakitan, kegagalan, kebodohan. Aku tak pernah menyukai sifatmu itu. Sayangnya, aku harus terbiasa dengan kebiasaanmu yang satu itu.

Aku kesal sekali padamu di akhir tahun ini, ketika kau memutuskan sendiri untuk kembali ke Ciamis. Aku menghargai keinginanmu untuk mengurus sendiri sepetak sawah keluarga kita. Semuanya baik-baik saja, sampai suatu hari kau mengeluhkan penyakit di kakimu dan berhenti mencangkul. Mungkin kau tidak tahu, sebelumnya aku pernah bercakap-cakap dengan ibuku jika saja nanti kau berkeinginan untuk pulang tolong mencegahnya. Bukannya aku jahat dengan tidak membiarkanmu pulang. Hanya saja jika dipertimbangan dengan matang, keinginanku beralasan. Uang yang kau gunakan untuk  ongkos pulang bisa kau kirimkan untuk biaya membajak sepetak sawah itu. Tak perlulah pulang, karena semuanya akan baik-baik saja.

Kau, selalu membiarkan dirimu berada dalam kesulitan. Tak mengapa jika kau selesaikan semuanya sendiri. Tapi, kenyataannya, saat kau kesulitan akulah yang jadi tamengnya dan bertugas membereskan semua kekacauannya. Aku bukannya tidak suka, hanya saja jika memang tidak harus bertemu kesulitan kenapa pula kau membiarkan dirimu bertemu dengannya.

Sesungguhnya aku lelah, melihat sifatmu yang seperti yoyo. Cepat sekali berubah,ini hari kau berjanji manis dan lusanya kau mengeluh lagi. Tak sanggup dengan tugas yang kau emban.

Tolonglah aku, sekali-kali cobalah untuk berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Tak baik jika terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Berpikir memang mengulur waktumu, tapi setidaknya kesulitan yang akan kau temui jauh lebih sedikit. Aku ini anak perempuan, terkadang aku mengeluhkan bebanku di keluarga kita. Aku seperti anak pertama padahal aku anak kedua dan kakaku laki-laki. Sebentar lagi usiaku akan menginjak dua puluh tiga tahun. Ingatkah kau, di usia yang sama anak laki-laki pertamamu, anak sulung di keluargamu telah melepaskan tanggung jawabnya sebagai kakak dan sebagai anak demi seorang wanita. Dan lihatlah aku sekarang, bahkan untuk sekedar mengejar impianku melanjutkan studi kuliahku saja aku harus berpikir berulang kali hingga akhirnya menyerah pada kenyataan yang ada.

Aku tahu betul, jika pengorbanan yang telah kau lakukan untukku jauh lebih besar dari yang kulakukan sekarang. Aku tidak akan pernah bisa menandinginya. hanya saja, perlu aku ingatkan. Ketika kau melakukan sebuah pengorbanan untuk anakmu ini, aku tak pernah menyia-nyiakannya. Aku menjadi sebaik-baiknya anak. Aku memberimu sebuah kebanggan sebagai ayah yang beruntung. Kini aku ingin kau melakukan hal yang sama, tolong buatlah pengorbananku ini tak sia-sia. Tolong bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Dulu ketika sekolah, aku tak pernah berhenti belajar hanya karena aku tak mampu membeli modul. Aku tak pernah bolos sekolah hanya karena sepatuku yang sudah rusak. Itu semu kulakuakan karena aku memahami kesulitan ekonomi keluarga kita. Dan aku tak mengeluhkannya. Apakah kau pernah mendengarku merengek meminta dibeliakna  HP, tidak bukan. Bahkan, sepotong baju pun aku tak pernah dengan sengaja memintamu untuk membelikannya jiak kau tak mampu.

Aku, berusaha menjadi seorang anak yang baik. Setidaknya melakukan hal-hal baik yang tak pernah kakaku lakuakan. Tapi apa yang kau lakukan, kau memujikau di hari ini lantas lusanya kau menuntutku memberikan lebih. Aku tak pernah menganggap uang yang kukirimkan setiap bulan itu adalah utang, tapi setidaknya mohon jangan biarkan aku mengurus masalah ekonomi keluarga ini sendirian. tolong bantu aku. Mari kita bersama-sama mencukupi kebutuhan kita semua.

Aku minta maaf, jika aku lancang karena menuliskan ini semua.
Semoga Tuhan memberimu umur panjang dan senantiasa memberikanmu kesehatan

Terimakasih,

Sabtu, 17 Januari 2015

Majikan Perempuan



Apa yang paling sering dilakukan oleh seorang perempuan?

Kita ini, kaum perempuan pandai sekali untuk urusan mengeluarkan suara. Senag sekali mengomel.

Aku tidak sedang men-judge siapapun. Karena aku sendiripun seorang perempuan. Tulisan ini tiba-tiba saja terpikir olehku ketika majikanku melakukan hal yang biasa dia lakukan.  Teriak.

Dia, majikanku. Dan dia seorang perempuan. Punya uang banyak. Aku bisa mengilustrasikan sedikit tentangnya. Seorag perempuan, yang lahir dari keluarga yang memang punya nasib sangat baik dalam hal keuangan. Tak pernah kekurangan harta, tak pernah menggunakan angkutan umum. Buatnya, ketika dia punya uang semuanya akan selesai. Hidup itu, yang penting punya banyak uang. Apapun bisa dilakuakan.

Sebenarnya, aku sudah lama gregetan sekali ingin menuliskan tentang dia. Jadi biar kutuliskan sekarang. agar tak memenuhi kepalaku lagi.

Kembali lagi padanya, yang punya banyak uang. Yang tak pernah hidup melarat.
Aku tak memungkiri dia baik. Hanya saja, dia memiliki sifat jelek. Manusiawi. Jadi yang kupaparkan juga akan terlihat manusiawi. Tidak di dramatisir.

Tahun kemarin, adalah tahun pertamanya membawahi kami. Ikut campur pada urusan usaha yang dilakukan suaminya. Tugasnya meng-handle masalah keuangan.
Dan ketika dia datang, banyak dari pegawai yang mengeluhkan keberadaannya. Dia senag sekali mengeluarkan suara, menghambur-hamburkan suara saat emosi. Itu manusiawi, sifat mendasar dari seorang perempuan. Hanya saja, mungkin ada baiknya jnika dia sedikit mengontrol omongannya.  Dan karena sifatnya itu, banyak pekerja yang keluar.

'Kalau memang sudah tak mau kerja tinggal keluar saja. Tak usahlah takut. Saya yang punya uang, kenapa pula saya yang harus takut pada karyawan. Selama masih ada uang, saya masih bisa cari orang yang mau bekerja disini.'

Itu adalah kalimat yang sering kutemui ketika dia menghadapi masalah pekerjanya yang meminta kenaikan gaji atau mengundurkan diri atau memang ada konflik dengannya.
Ucapannya memang tak sepenuhnya salah. Tapi, lagi-lagi alangkah baiknya jika dia bisa lebih sedikit menghargai orang lain. Dia memang punya uang, tapi unag saja tak kan pernah cukup untuk mencari seorang pekerja yang baik, jujur dan setia. Akan sulit menemukan orang yang bisa menerima keadaan perusahaannya apa adanya. Semua pekerja mempunyai bebannya sendiri. Mempunyai tanggung jawab yang berbeda-beda. Jika aku tak pernah mengusik masalah uang bukan berarti aku merasa sudah berlebihan. Dan adalah wajar jiak pekerja menginginkan kenaikan upah. Harga bahan makanan saja sekarang sudah naik bukan?

Kami selalu menyimpulkan, majikan perempuan kami ini memang terlalu arogan. Kadang-kadang. Tak pernah menyadri jika dia pun ,memang membutuhkan orang yang bisa dipekerjakannya.Dan bisa bertahan untuk waktu yang cukup lama.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan satu kalimat dari seseorang.
'Nyari orang yang mau kerja di kita itu gampang, yang sulit adalah mencari orang yang betah bekerja dengan kita. Karyawan akan nyaman, jika majikannya bisa memahami karyawannya..'


Jumat, 16 Januari 2015

The Amazing Spiderman



Ini bukan post review filam. jiakpun demikain itu pastilah postingan yang amat sangat terlambat.\
Ini hanya berupa catatan pendek yang terus saja berada di angan-anganku beberapa hari yang lalu. akan sangat menyebalkan jika tak menuliskannya, karena byanngan itu akan tetap ada. Tak beranjak dari pikiranku.

Menulis adalah caraku untuk memindahkan cerita-cerita di kepalaku.

Terlambat. Aku terlambat menonton film ini. Sangat terlambat.
Karena aku baru menontonnya di saat sebuah televisi swasta menayangkannya. Akhir tahun 2014.

Spiderman dan The Amazing Spiderman.
Dua film dengan ide dan gagasan yang sama. Hanya saja dibuat seolah-olah berbeda. Dan itu sangat riskan. Aku tak tahu apakah The Amazing Spiderman itu penjualan filmnya sukses atau tidak. Aku belum mencari tahu tentang hal itu. Hanya saja, aku membuat beberapa catatan setelah film ini selesai.

Andrew Garfield jauh lebih tampan dari Tobey Maguire. Jauh terlihat lbih cool. Dan karakter yang mereka perankan juga berbeda. Jadi sangat terlihat usah untuk membuat film ini berbeda. Aku merasakan hal itu.

Aku akan menikamti film The Amazing Spiderman, jika saja tak pernah ada film Spiderman sebelumnya.

Aku menikmati aktingnya, plot yang dibuat, karakter yang diciptakannya.

Hanya saja aku kehilangan satu hal. Sentuhan drama.

Film Spiderman menyajikan bukan hanya tentang seorang superhero yang menyelamtkan banyak kekacauan. Tapi juga menyajikan banyak drama yang membuatku jatuh cinta pada skenarionya.  Tentang bagaimana hubungan Peter Parker, Harry dan MJ. Tentang cinta segitiga yang terjadi diantra mereka. Tentang rasa bersalah Perter pada bibinya, tentang bagaiamana Spiderman bertarung dengan ayahnya Harry.  Semuanya dibuat dalam satu film. Satu film yang memuat banyak drama. Banyak konflik di hatinya Peter Parker. Dan aku tidak mendapatkan itu di film The Amazing Spiderman. Karena film ini terlau terburu-buru mengenalkan siapa di balik topeng seorang superhero bernama Spiderman. Konflik jadi tampak terlalu biasa.

Dua film ini mungkin sengaja dibuat berbeda. Tapi sayangnya, mereka lupa bahwa film yang pertama tayang mempunyai banyak drama didalamnya. Ada pergulatan emosi yang tercipta atas kemunculan Spiderman. Ada pilihan-pilihan yang harus diambil. Memilih mendapatkan orang yang dicintai atau menyelamtkan dunia. Sebuah pergulatan hati yang tak mudah. Bahkan musuhnyapun adalah orang-orang yang sudah dia anggap keluarga sendiri.

Aku sangat menykai akhir dari film Spiderman. Ketika Peter Parker hadir di pemakaman. Dan dia memutuskan bahwa takdirnya adalah menjadi Spiderman. Seorang pahlawan. Ada banyak detail yang  yang hadir di film ini tapi tidak hadir di film The Amazing Spiderman.

Ini, adalah sebuah tuliisan yang berisi pandangan pribadi. Setiap orang jelas punya hak untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri.Aku tidak bermaksud men-judge film The Amazing Spiderman kurang menarik, Tidak.Film ini bagus, hanya saja akan jauh lebih baik jika film ini tak hanya berisi tentang kehebatan superhero dalam memerangi kejahatan. Akan jauh lebih menarik jika semuanya didramatisir sebaik mungkin.

Terimakasih,

Kamis, 15 Januari 2015

Skenario



Ini buklan postingan tentang bagaiamna cara membuat skenario, karena aku buta akan hal ini. Hanya sebuah judul yang muncul atas sebuah perenuangan. Begini ceritanya,

Salah satu hal yang paling sering kulakujkan adalah menonton televisi. Aku menyukai layar kaca itu dari dulu dan masih seperti itu sampai sekarang. Hanya orientasi program saja yang berbeda.

Dan satu tahun belakangna ini, aku menyukai serial  drama korea yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Karena sifatku yang tidak sabaran untuk menunggu tayangan per-episodenya, aku terbiasa membaca sinopsis yang memang bisanya bertebaran di banyak laman bloger. 

Baru-baru ini, aku sedang menggandrungi serial TV  yang berasal dari India. Mahabarata, Ramyanan, Jodha Akbar. Untuk kisah Mahabarata dan Ramayana, aku sudah mengetahui ending dari ceritanya,karena merupakan kisah pewayangan yang terkenal. Dan untuk Jodha Akbar, aku buta tentang kisah satu ini. Tak pernah mendengarnya, apalagi membacanya.

Membaca. Itu sudah jadi kebisaanku. Kesenanganku. Dan tentang kesenangan membaca sinopsis drama, itu juga terjadi padaku saat ini. Saat sedang berlangsungnya drama serial Jodha Akbar. Pada awalnya, aku hany membaca kisah singkatnya saja, tapi kemudian baru-baru ini aku menemukan bloger yang menulis sinopsis lengkapnya per episode. Sebuah penemuan yang menyenangkan. Awalnya.

Kenapa demikian?
Karena tadi malam aku baru menyadarinya, saat aku sudah membaca sinopsisnya aku menjadi tahu keseluruhan ceritanya. Dan aku mengetahuinya, bukan karena menontonnya. Aku mengetahui kejadian per kejadiannya lewat membaca. Kupikir menyenangkan, ketika aku tahu apa yang akan ditayangkan televisi hari ini, besok dan sepekan mendatang. Sayangnya tidak. Aku kehilangan rasa. 

Sebelum membaca sinopsisnya, aku selalu menantikan jam tayang serial ini. Menunggu dengan sabar setiap harinya. Berharap siang cepat berganti malam. Seperti orang yang sdang jatuh cinta. Ingin selalu cepat-cepat berjumpa. Saat serial ditayangkan, aku memperhatikannya dengan cermat, plotnya, akting pemerannya.  Dan disaat aku beranjak tidur, aku akan mengingat, apa yang aku lihat di episode malam ini, dan menerka-nerka apa yang akan ditayangkan esok hari. Ada sebuah rasa yang tak bisa kugambarkan untuk sebuah penantian dua puluh empat jam.

Tadi malam, aku kehilangan rasa yang pernah kumiliki, kehilangan rasa ingin menikmati plot ceritanya, aktingnya.Kehilangan sensasi menerka-nerka tayangan besok malam. Detik itu, aku mmenyadari satu hal. 'Aku kehilangan kesenangan menikmati tayangan, menikmati cerita, dan menikmati sensasi imajinasiku.' Karena satu hal, terlalu rajin membaca.

Kehilangan rasa tersebut membawaku pada sebuah perenungan. Apa yang akan terjadi jika saja aku mengetahui semua skenario yang Tuhan tuliskan untukku. Apa jadinya, jika aku mengetahui kejadian-kejadian pa saja yang akan kulewati esok hari. Akhir seperti apakah  yang kudapat di penghujung ajalaku. Selintas mungkin seperti hal menyenangkan, Tapi jika direnungkan lebih dalam, tidak.

Apa menyenangkannya mengetahui masa depan?
Saat kita tahu, bahkan hapal mati masa depan kita seperti apa, kita akan kehilangan satu kegiatan menyenangkan. Berimajinasi. Kita kehialangan rasa yang hadir saat kita berangan tentang hari esok. Tentang pertemuan dengan teman hidup. Kita tak kan punya impian. Karenna kita memang sudah tahu, akan seperti apa hari esok itu, Tak kan ada imajinasi liar tentang masa depan. Tak  kan ada angan-angan tentang pertemuan kembali dengan cinta pertama. Tak bisa menerka-nerka pria seperti apakah yang akan membuat kita jatuh cinta esok hari. 

Membosankan bukan, jika masa depan itu diketahui di hari ini.

Jadi, aku lebih menyukai jadi seseorang yang hanya tahu tentang masa lalu. Bukan masa depan. Karena aku ingin tetap berimaji dengan masa depanku. Tentang pertemuan-pertemuan yang menyenagkan. Tentang jodoh yang sudah dipersiapkan. Tentang keluarga dimasa depan. Aku menikamati kegitan menerka-nerka semuanya. Jika toh, nantinya tak sesuai yang diangankan  tak kan jadi masalah. Karena bahagia bukan berasal dari apa yang kita dapatkan. Bahagia itu, ada di dalam hati, dan semuanya tentang penerimaan.

Terimakasih,