Rabu, 14 Januari 2015

Rencana



Rencana,
Catatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan bucketlist. Meskipun ini memang masih awal tahun.
Ini adalah tentang hal-hal yag telah terlewat. Hari-hari di masa yang tak terlampau lama,tapi jelas bukan di tahun ini kejadiannya.

Dalam banyak kesempatan, aku lebih sering berpergian dengan terburu-buru. Maksudnya disisni adalah, semua perjalannku tak pernah direncanakan sebelumnya. Terpikir di hari itu, dan pergi di hari itu juga. Atau setidaknya, ada jarak satu sampai tiga hari hingga hari eksekusi tiba.

Oktober2013

Hari minggu pagi di awal bulan kesepuluh, aku melihat sebuah post di Twitter yang kurang lebih isisnya tentang Book Fair. Hadir penulis-penulis Gagasmedia yang menulis serial STPC (Setiap Tempat Punya Cerita). Hari itu, adalah awal dari banyak perjalanan yang kulakukan berikutnya.
Hari itu adalah hari dimana sebuah harapan yang hanya kukatakan di dalam hati menjadi kenyataan di akhir tahunnya. Dua tahun lebih tinggal di sebuah kota yang berbatasan langsung dengan ibukota tak berarti aku mengenal dengan baik tujuanku. FX Sudirman. Setelah sempat salah turun di shelter busway yang salah  karena kesalahpahaman penyebutan nama, tibalah aku di sana.
Seperti apa gambaranku tentang FX ? entahlah. Saat itu rasanya, aku seperti salah masuk. Ini bukan tempatku,belum layak kumasuki tepatnya. Sebuah gedung yang didalamnya terlalu banyak kafe. Tempat tongkrongan yang asik, jika punya penghasilan minimal lima juta perbulan.
Balik ke tujuan, aku disana untuk bertemu penulis. Meskipun aku sebenarnya tak tahu satupun dari karya-karya mereka. Jika tak salah ingat waktu itu diatas panggung ada lima penulis. Prisca Primasari, Windry Ramadhina,Sefrina Khairil,Robin Wijaya dan Moemoe Rizal.
Yang terakhir, adalah favoritku (omong-omong, itu karena dia sudah folback aku).
Hari itu aku membeli tiga novel, Remember When,Last Minute in Manhattan,dan Bangkok.
Novel yang terakhir, adalah  dia yang membawaku menikmati santap siang di 'Grasshopper Thai' bersama dengan penulis dan editor. Pengalaman yang teramat menyenangkan,hari itu  membuatku yakin untuk terus memupuk impianku menjadi seorang 'penulis'.
Sore itu, sepulang dari restoran Thailand di daerah setiabudi aku menikamti gerimis dengan cara yang berbeda. Harapan.
Gerimis yang turun kali itu, datang bersamaan dengan hadirnya harapan baru yang akan menemani hari-hariku berikutnya.


April 2014

Ini kali pertama aku menyaksikan stand up langsung. Setelah setahun belakangan hanya melihatnya melalu layar televisi. Bertemapt di kampus Mercu Buana. Stand Up Nite Jakbar. Sebuah acara yang di gelar untuk sebuah perayaan ulang tahun terbentuknya komunitas Stand Up Indo Jakbar.
Disana aku bisa melihat langsung seperti apa Ge Pamungkas, dan mendengar bit-bit tanpa editing. Menyenangkan sekali, saat tawa bisa pecah.

Juni 2014

Tempat yang kukunjungi di akhir bulan itu adlah 'Jakarta Book Fair' yang bertempat di Istora Senayan, Jakarta. Perjalanaku kali itu, mengenalkanku pada seorang penulis yang blog nya sudah kuikuti beberapa bulan sebelumya. Alit Susanto. Darinya aku mendapatkan ilmu kepenulisan, lagi. Rasanya tak ada yang lebih menyenagkan dari mendapatkan ilmu baru,
Dan hari itu, aku membeli dua novel karya Sidney Sheldon. Salah satu penulis luar favoritku. Novel bekas, dengan harga yang sangat murah. Aku menykai event ini. Diskon buku dimana-mana. Membuatku lupa pada rupiah yang kumiliki untuk jatah membeli buku. Karena hidupku, memang tak melulu tentang membeli novel.

Juli 2014
#Project Happy @KopiKeliling
Pertama kalinya, aku menjadi volunteer pada sebuah acara, Menarik. Karena sebelumya aku tak tahu sama sekali seperti apa acaranya. Hanya mencoba, lalu kemudian beruntung.
Malam itu, aku melihat seni lukis dari sudaut pandang yang berbeda. Bukan hanya tentang bakat, dan kemauan. Tapi juga tentang pelukis itu sendiri. Idealis dan realistis, begitu kata kak Uniss,nama lengkapnya Nurkhareunnisa. Dia adalah pelukis pertama yang memulai obrolan denganku.
Tugasku adalah menjadi Guest / Artist LO. Tanggungjawabku, memastikan artist/ pelukis itu ada dipanggung utama saat tiba gilirannya menjelaskan konsep dari karyanya.
Aku, menerima file potret para artist tiga puluh menit sebelumnya. Dan itu menyulitkanku untuk mengenali mereka satu persatu.
Perjalanan hari itu, membawakau pada perbincangan-perbincangan menarik seputar awal karir para pelukis-pelukis itu. Juga tentang konsep karyya mereka, aliran mereka da juga materi yang mereka gunakan untuk karyanya.
Lagi-lahi, aku di buat kagum pada sesuatu hal bernama 'Karya Seni'
                                                     ***
Sbenarnya, ada banyak lagi perjalanan yang kulakukan tanpa perencanaan sebelumnya. Malah seringnya, perjalanan tak terencana itulah yang bisa kuwujudka, Sedangkan perjalanan yang direncanakan seringnya mengalami gangguan di hari H.

Mungkin, memang perjalanan tak terencana itulah sebenar-benarnya perjalanan yang sudah di persiapkan Tuhan untukku. Bukan perjalanan yang kurencanakan.



Selasa, 13 Januari 2015

Kepada Seorang Beraura Musim Semi



Tuhan teramat tahu caranya memberikanku pemahaman
Tentang cinta, dan bagaimana menyikapinya.
Rumit bukan,

Dan kamu,
Adalah seseorang yang telah Tuhan kirim untuk itu.
Melalui kamu, aku belajar
Belajar bersabar untuk sebuah penantian
Belajar pasrah untuk sebuah keputusan
Belajar melepasakan, di saat aku begitu menginginkannya.

Tahukah kamu,
Waktu membuatku melepaskanmu\
Merelakanmu jatuh pada hati selain aku
Di saat yang bersamaan dengan keputusan hatiku memilihmu

Dan sungguh,
Melepaskanmu adalah pemahamn tersulit dihidupku


Kamu,
'Seseorang beraura musim semi'
Selamat menyelami hati yang baru

Senin, 12 Januari 2015

Teman Yang Menyenangkan


'Seorang teman, buatku adalah dia yang apabila bersamanya aku tak menyadari matahari yang sudah beranjak dari terik ke senja. '

Waktu mempertemukan kami di penghujung tahun 2009. Aku dan dia dari kelas yang berbeda. Tak saling mengenal satu dan lainnya meskipun sekolah di tempat yang sama. Awalnya. 

Barulah di awal tahun pelajaran kelas XII kami bertemu.

Semua pertemanan, berawal dari sebuah pesamaan. Apapun bentuknya. Begitu juga dengan kami, Ketika itu, kami menjalankan PKL (Praktek Kerja Lapangan) di sebuah lembaga yang sama. Perum PERHUTANI Bandung. Karena lokasinya yang memang di luar kota mengharuskan kami untuk mencari tempat tinggal sementara, jadilah kami memutuskan untuk tinggal bersama di tempat yang sama. Berbagi atap bersama. Dengan satu dan lain alasan. Itulah awal mula kami mulai mengenal satu sama lain. 

Sebenarnya, bukan hanya aku dan dia. Kami berempat.  Mulanya.
Tapi, waktu dan impian masing-masing memisahkan kami semua setelah kelulusan sekolah menengah. 

Aku dan dia, dipertemukan kembali dalam situasi yang kurang lebih sama.
Saat ini kami tinggal di kota yang sama. Itulah yang membuat kami bertemu baru-baru ini.

Dan apa yang lebih menyenangkan dari bertemu kawan lama?
Saat semua cerita mengalir dengan lancarnya dari mulut kami.
Bahkan saat diam pun, itu akan terasa seumpama percakapan.
Menyenangkan.
Kami seperti tak pernah kehabisan percakapan.
Bahkan disaat semua cerita pribadi telah di perdengarkan, kami masih punya bahan percakapan.
'Seorang gadis bergaun merah dan lelakinya'
Adalah diskusi kami yang panjang di sebuah tempat wista sejarah di tengah kota Jakarta. 
Mata kami, sama-sama tertarik pada objek baru itu. 
'Gadis bergaun merah'
Satu objek, yang membawa kami pada percakapan lain-lainnya.

Ada banyak objek yang kami amati dan diskusikan sepanjang siang itu. 
Balon-balon yang disewakan.
Manusia patung yang tak lagi laku.
Naruto yang 'cameot'.
Masha yang kelewat aneh.
Foto prewdding.
Bayi bule yang naik odong-odong.
Cireng isi yang sulit ditemukan penjualanya.

Aku dan dia. Kami.
Bukan lah orang yang biasa saling mengirimi pesan satu sama lain. Tak berinteraksi rutin dalam sosial media apapun, Hanya akan saling menghubungi jika memang ada hal yang penting untuk di ceritakan.
Seperti itulah penjabaranku tentang pertemanan kami.

Aku dan dia. Kami.
Tak secara khusus memiliki hobi yang sama.
Tak juga mengidolakan satu tokoh yang sama.
Tak ada buku favorit yang sama.
Tidak pula punya  selera fashion yang sama.

Hal yang menghubungkan kami dalam pertemanan ini,
Melewati tiga tahun sekolah menengah di tempat yang sama.
Berasal dari daerah yang sama.
Pernah tiga bulan tinggal bersama.

Dan mungkin hal terakhirlah yang membuat kami dekat. Karena alasan pertama dan kedua bisa gugur. Sama halnya dengan nasib perkawananku dengan yang lainnya. Tergerus waktu.

Aku, memiliki teman diluar dia.
Dia pun sama demikian.
Hanya saja, kami tak pernah saling berkonflik.
Lebih tepatnya, aku tak pernah sekalipun berselisih paham dengannya selayaknya dua sahabatnya yang mulai menjauh darinya.

Itu bukanlah kelebihanku. Karena pada dasarnya aku orang yang 'flat'.
Tak terlalu ambil pusing pada hal-hal yang dilakukan orang lain.

Etik, begitu nama pendeknya. 
Kepanjangannya, aku lupa.
(bisa disimpulkan, teman macam apa aku ini)

Aku ingin menjulukinya 'Perempuan yang jatuh dihati yang sama berulang-ulang'
Dan lagu yang tepat untuk menggambarka dirinya 'Berhenti di kamu'.

Terimakasih, telah mau menjadi temanku.










Sabtu, 10 Januari 2015

Penjaja Nasi Uduk Dengan Dua Kata Pemutus Harapan



Aku menemukannya dalam sebuah linimasa di suatu pagi bulan Januari. Dalam sebuah potret berlatarkan musim gugur.

Ada yang menarik mataku pada potret itu. Bukan, bukan dia yang sedang berdiri  Melainkan sebuah view di belakangnya. Sebuah latar yang bercerita. Tentang sebuah harapan yang telah terhapuskan waktu. Daun yang berserakan. Aku menikmatinya sebagai sebuah cerita.

Ketika itu, iseng kutanyakan dimana tempat dia dalam potret itu. Jawabannya, Donghaksan.
Itu membuatku semakin penasaran,
'Siapa dia?'
'Sedang apa di negerri gingseng sana?'
'Liburankah, atau kerjakah?'

Dan aku mendapatkan jawabannya. Sebuah jawaban tak logis dari seseorang yang katanya mengenal teman sekelasku.

'JUALAN NASI WUDUK'

Aku mengernyitkan dahi, apalah lagi itu.
'Nasi wuduk?'
'Samakah dia dengan nasi uduk?'

Dengan bodohnya aku menanyakan lagi jawabannya, kali ini aku minta dia mnenjawabnya dengan sungguh-sungguh. Lalu apa katanya?

'Iya, bener jualan nasi uduk di korea.'
'Ih jualan uduk,bsok mah mau jualan TO tuh ngambil ti si ***'
'si *** juga lagi di Ethiophia (penyalur TO)'

Bodoh, kalau saapai aku percaya pada bualannya.
Tak adalah cerita nasi uduk itu, atupun TO alias tutug oncom.

Aku membual padanya akan membuatkan sebuah artikel tentang itu. Akan kuberi judul 'Nasi uduk yang menjelajah Korea'.

Tapi, yang menarik bukan pada nasi uduk dan korea. Akhir dari perckapanlah yang membantuku menemukan sebuah kalimat baru.


Ketika percakapan di 'chat' sudah sampai di kata 'he..' itu sama dengan kata 'TAMAT' yang tertera di akhir halaman sebuah novel.'

Kalimat itu kutemukan pada saat dia menuliskan 'He..'
Dua huruf yang membunuh sebuah keisengan. Dalam pencarian teman.
Dan itu tejadi pada banyak pesan di sosial media.

Sebenarnya, mungkin akan lebih baik ketika sebuah perckapan pada sosial media di tuliskan dalam bentuk yang lebih sederhana. Dengan tidak menuliskan apapun. Sepertinya akan jauh lebih baik.
Sayangnya, sebagian merasa jika dua huruf itu adalah bentuk dari mengakhiri obrolan yang paling sopan. Bentuk penolakan yang halus.
Lalu apa bedanya, sebuah penolakan tetaplah penolakan, Seperti apapun cara menyampaikannya toh tetap saja bentuknya penolakan. Negatif.

Tulisanku kali ini, adalah sebuah janji diriku sendiri. Karena pada saat yang bersamaan dengan itu. Aku telah menuliskan sebuah keinginan menulis. Untuk penjual Nasi Uduk di Korea sana.
(Korea adalah  kesimpualanku sendiri, omong-omong).

Terlihat seperti sebuah kemarahankah tulisan ini?
Aku harap tidak.

Karena aku tidak marah sama sekali. Aku hanya kecewa. Pada sebuah jawaban yang tak pernah bisa dicerna akal sehat. JUALAN NASI UDUK.

Kecewa atas apa? Apa pula dasarnya?

Aku, tidak sedang mencari perhatian sama sekali. Aku hanya ingin dia bisa sedikit memberiku cerita. Yang bisa menginspirasi siapapun yang membacanya. Ini serius. Aku menikmati sebuah cerita perjalanan. Menikmati sebuah proses pencapaian. Dan jika memang itu baik untuk di bagi, kenapa pula harus disimpan sendiri. Sebuah proses macam apapun itu selalu punya nilai. Aku percaya itu.

Penjual nasi uduk di belahan bumi sana, omong-omong aku tidak menemukan kata kunci 'donghaksan' di google.

Tapi, setidaknya terimakasih untuk dua kata yang membuatku mnemukan sebuah rangkaian kaliamat  baru. Selamat menikmati perjalanannya, jika itu memang benar sedang kau lakukan.



Jumat, 09 Januari 2015

Bunga,Dinding Jendela (Cerita Cinta)

kota tua dan sepedah tua by nonakumis

Rasanya segar sekali udara pagi ini. Kota ini memang menawarkan keheningan, persis seperti yang kuharapkan. Tidak salah aku memilihnya untuk menenangkan hat idan pikiranku. Meninggalkan semua rasa penat dan lelah yang memburuku di ibukota. Jika hanya urusan pekerjaan saja aku tak perlu harus repot-repot mengungsi sejauh ini.

Kulihat langit menampilkan semburat warna kemerahan khas fajar. Aku suka momen ini. Pagi. Saat gelap dengan sendirinya hilang dan berganti dengan terang. Langit buatku seperti doa seorang ibu. Menenangkan, memberi rasa aman. Dan pemandangan langit pagi yang berwarna kemerahan terhalang oleh kabut pegunungan membuatku merasa nyaman. Seo;ah Tuhan sedang berkata padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Malam selalu berganti menjadi pagi. Dan gelap akan pelahan memudar seiring datangnya matahari. Pagi ini kuputuskan untuk berjalan-jalan sejenak di pematang sawah di belakng rumah.

Bau ini, aku merindukannya.membawa ingatanku terlempar pada ingatan duapuluh tahun yang lalu. Saat semuanya berawal. Mimpi harapan dan cinta.
Awalnya semuanya berjalan baik- baik saja. Mimpi dan harapan bisa kuraih dengan usaha dan kerja kerasku. Lulus kuliah tepat pada waktunya,dengan IPK yang memuaskan, dan berhasil menjadi salah satu editor di perusahan penerbitan. Tapi untuk yang terakhir, aku tak bis amewujudkannya. Cinta. Sekiranya cinta itu juga bisa berjalan beriringan dengan usaha dan kesuksesan. Tapi kenyataannya,tidak.

Tinggak dikota yang sama dan bekerja di kantor yang sama tak lantas membuat aku bisa berjalan bergandengan dengannya. Bahkan meskipun kami punya banyak hobi dan kesamaan tak mampu membuat kami mempunyai perasaan yang sama.Dia tetap berada luar jangkauanku. Dan aku hanya bisa menatap punggungnya saja dari belakang. Hanya itu, tak pernah lebih. Bahu yang kuimpikan jadi empat sandaran di kala penat itu hanyalah impian yang semu.
                                                ****
“neng,kade hati hati nya. Galengan na leueur da wengi nembe hujan”
Itu pesan bibiku tadi sebelum berangkat.
“kahade geubis,alon-alon we mapahna. Ngke0 bibi nyusul mun si asep tos angkat ka sakola.”
                                                ****
Aku sudah jatuh bi, bahkan jauh sebelum aku menginjakan kaki di pematang sawah ini. Jatuh di kubnagan lumpur yang sama, berulang kali. Hingga sulit untukku dapat melihat jalan mana yang bis kupijak. Dan disaat kaki ini kulangkahkan kembali,aku tergelincir lagi dan lagi.selalu begitu.satu langkah,aku tergelincir, bangun lalu melangkah lagi dan baru dua langkah aku harus tergelincir lagi. Seterusnya begitu. Hingga ku memutuskan untuk merangkak saja. Setidaknya tenagaku tak habis untuk hanya sekedar berusaha berdiri tegak.

Dan disisnilah aku sekarang, setelah merangkak Setahun lebih. Bukan dalam arti sebenarnya,karena itu mustahil.  Aku menyerah. Menyerah untuk cinta. Tak ada celah lagi. Takada kesempatan. Semuanya sudah selesai. Usahaku, sepertinya sia-sia saja.
                                      ****
“hari minggu ini kosong ga?”
“kosong,kenapa emangnya?
“gue mau ajak lo maen ke kota tua”
“cie..lagaknya kayak pendatang baru. Wisatanya ke kota tua euy..”
“ngeledek lo, ikut ga? Gue lagi ada project.”
“project apaan tuh? Mencatat sejarah penjajahan kompeni ya, ha..ha…”
“ aw..sakit bego! Apa yang lo lemparin barusan hah?!”
Aku secara otomatis menoleh  lantai dan menemukan sebuah  penjepit kertas.
“ikut ga?” lanjutnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“ok,lo jemput gue jam sepuluh besok.”
“makasih Rere,lo emang temen gue yang paling nurut,”katanya sambil mengacak rambutku dan berjalan ke pantry yang terletak persis didepan ruangan kerja kami.
Ah, mana bisa aku menolak permintaannya. Aku tak pernah berdaya untuk itu. Dia adalah matahari buatku.tak pernah berubah dari belasan tahun yang lalu,ketika kami masih menggunakan seragam merah putih.
                                      ****
Minggu pagi, jam sepuluh kurang lima belas menit dia sudah datang menjemputku. Dengan memakai kaos warna putih dan jaket jersey Barcelona di padu celana jens selutut serta topi dia tanpak tetap menawan buatku. Pesonanya tak pernah luntur sedikitpun. Selalu sama.

“langsung berangkat ya Re, lo udah sarapan blom?”
“udah. Lo sendiri?”
“belom,ntar aja gue nyari makanan disana. males nyarinya tadi.”
“jangan dibiasain pergi dengan perut kosong, lo punya mag. Kalo sakit yang berabe gue. Gantiin tugas lo dikantor lah,nyariin obat, nyariin makanan.”
“ya elah, lo perhitungan banget Re, gue kan temen lo. Oh, dan bahkan sebenernya lo itu malaikat gue lagi. Selalu siaga saat gue kesulitan,”
Senyum itu,rasanya aku ingin memotretnya dan menyimpannya diingatanku.
                                                ****
“sebenernya apa yang lo cari disini sih?” tanyaku sesampainya kami tiba di kota tua.
“jendela,”
“gue pengen motret jendela disisni. Ada cewek yang lagi gue suka.”

Deg. Seketika rasanya jantungku jatuh ketanah. Dia sedang menyukai orang lain. Itu berarti aku gagal menembus celah yang ada. Esok lusa aku harus kembali melihatny bergandengan dengan wanita lain. Sungguh, tak ada yang lebih perih dari itu. Kenapa kau terus saja mencari,ketika ada aku yang akan selau ada buat kamu, Brian.

“lo ga nanya gue, apa hubungannya jendela sama tu cewek Re?”
“ hem..gue lagi mikir nih,”ucapku berbohong.
“wah, pinter ya lo. Mikir dulu baru nanya.”
“dia itu suka jendela re, Karena dulu dia pernah jatuh cinta lewat jendela. waktu itu ada seoarng cowok yang menarik perhatiannya saat sedang menikmati senja lewat jendela rumahnya. Dan ternyata cowok itu tetangga barunya yang nempatin rumah di sebrang rumahnya.”
“terus, dimana spesialnya jendela,” kataku menyela.
“makanya,dengerin dulu gue cerita. Jangan potong dulu.
“ jadi gini,”

Dan dia pun melanjutkan ceritanya.

“dia itu tak pernah sekalipun berkenalana sama tetangga barunya itu. Yang dia lakukan Cuma mengintip apa saja aktifitas tuh cowok lewat jendela. tiap pagi, sore  sampai malam pasti dia akan sempatkan waktunya buat monitor tuh cowok. Sampai akhirnya tuh cowok pindah,dia ga juga tah namanya siapa,no telp nya berapa. Tapi ia mengenal kebiasaan cowok itu yang setiap paginya minum segealas air putih saat bangun pagi sambil buka jendela. pokoknya dia hapal apa yang dilakuin tuh cowok dikamarnya stiap hari. Dan dia mengabadikannya lewat foto.”
“terus kenapa lo sekarang mau fotoin jendela buat dia? Foto buat seorang cewek yang jelas-jelas mendamba laki-laki laen.”tanyaku
‘” Justru itu Rere. Gue mau nunjukin kedia,apa yang bisa kita liat dari luar jendela. apa yang bisa kita temukan saat kita mengambil gambar justru bukan dari dalem rumah. Tapi dari luar jendela. tempat persembunyiannya.”
“gue mau nunjukin kedia,kalo diluar sini ada seseorang yang menyukainya, dan sudah tiba waktunya dia beranjak dari tepi jendela dan menghampiri gue. Bukan hanya duduk diam disana sambil menunggu entah apa yang hendak datang.”
“sejauh ini perkembangannya gimana? sama tetangga sebrang jendela lo itu?”
“kenapa lo punya pertanyaan gitu ke gue? gue kan ga bilang kalo gua tetangganya tuh cewek.”
“Gue editor Brian, tau kemana arah penjelasan lo bermuara.”
“gue tahu,lo perhatiin tu cewek udah lama. Selama cewek itu menunggu lewat jendalanya. 
Kesimpulannya cupid mengarahkan panah cinta buat kalian dalam waktu yang hampir bersamaan. Lo jatuh cinta dari pertama kali dia perhatiin lo pas pindahan.”
“ha..ha..lo pinter Re.”
‘yang masih gue heranin,kenapa baru sekarang lo deketin dia? Setelah lo pindah rumah? Kenapa ga dari dulu aja lo samperin?”
“gue suka di puja diam-diam Rere,”katanya sambil tersipu.
“saat ada yang menyukai gue diam-diam tuh rasanya gue ngerasa special. Gue jadi penting buat dia, tanpa pernah ia katakana sebelumnya.”
Sudah siftnya,kataku merutuk dalam hati.
“hey,gue tuh apa gitu ya. Sampai punya secret admirer gitu?’”katanya sambil tertawa bangga.
“Trus,lo mau nembak dia gitu?”
“betul sekali Rere, ntar malem gue kerumahnya.bawain foto ini.’”Katanya sambil nunjukin gambar jendela yang  pada sebuah tembok .dibawahnya ada pot bunga.
“gambar yang menarik,” kataku.
“ seperti jawaban pada sebuah penantian,’bukalah jendelamu, dan kuu akan meihat aku disini,di luar jendela dan menungguimu datang menghampiriku.’  Mungkin.”
“hey,perumpamaan yang menarik.gue suka.’
“lo dukung gue kan Re?”
“selama ini apa sih tindakan lo yang ga gue dukung Brian,’ ujarku pelan.
“lo emang temen gue paling pengertian” seraya memelukku.

Itu adalah pelukan terakhir yang  kuingat darinya. Setelah hari itu, kami tak pernah jalan bersama lagi. Senyum dibibirnya tetap terukir setiap pagi saat bertemu di kantor. Tapi senyum itu bukan karena aku yang ada dihadapannya, mealinkan seseorang diasana yang selalu menunggunya di tepi jendela.

Setahun kemudian aku aku mendapatkan surat undangan pernikahannya. Brian Wardana & Langit Senja.
                                                ***
Aku berbahagia untuk pernikahannya. Teman selalu bahagia atas kebahagiaan temannya bukan?
Lalu kenapa aku lari? Kenapa aku ada disisni, di sebuah perkampungan di kaki gunung galunggung sekarang?

Karena sungguh, berbahagia untuk kebahagiaan orang yang dicintai itu sulit. Jika ia memilih melewatkan sisa hari-harinya bersama perempuan lain. Bukan aku. Mencintai tanpa memiliki itu hampa. Kosong.

Apakah aku selama ini tak pernah menyatakan perasaanku padanya? Berpuluh-puluh kali. Bahkan ratusan kali aku menyampaikannya. Dan apa jawabnya?
Saat ini celah itu belum bisa untuk kaumasuki Rere,mungkin esok atau lusa saat waktu menakdirkan kita untuk menjadi lebih dari seorang teman. Waktu itu pasti datang Re,aku tahu kamu baik. Baik banget. Tapi tidak untuk menjadi bagian dari hatiku. Belum pas  Re. Jika waktunya tiba,cinta itu datang padaku. Secepatnya kukabari.

Jawaban itu selalu berulang saat aku membicarakan perasaanku padanya. Seperti kaset yang diputar berualng ulang. Hingga kusut.

Takdir mungkin memang tak menghendaki kami bersama. Seperti tembok,jendela dan bunga. Meskipun bunga itu cantik,semua orang suka,tempatnya bukan menempel di tembok. Ia harus tumbuh di tanah. Entah itu  tanah di pot, atau tanah yang menempel dibumi sekalipun. Dan jendela, memang akan selalu menempel di tembok. Menua bersama, terkelupas bersama,dan hancurpun bersama.

Meskipun aku seumpama bunga, indah. Tetap saja tembok tak kan pernh menjadi tempatku tumbuh,menua dan mati bukan?


Setengah setengah




Libur panjang tahun baru terpaksa hanya kuisi dengan kegiatan tidur dan menonton televisi. Apalah daya, keterbatasan memaksaku untuk berdiam diri disaat yang lain bisa berlibur dan pulang ke kampung halaman, Dan ketika yang lain membawa senyuman selepas bertemu kangen, aku mendapatkan secercah harapan dari kegiatan membosankan di libur panjangku.  

Berawal dari sebuah film layar lebar yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta di masa libur panjang, aku menyadari satu hal. Kenapa aku tidak pergi kemana-mana padahal disaat yang bersamaan teman-temanku sudah menjelajah kemana-mana. Kenapa aku masih terlihat sama dengan diriku di sepuluh tahun yang lalu, padahal disaat yang bersamaan semua teman-teman sebayaku telah banyak berubah, Dalam banyak hal. Kepribadian, relation, karir. Kenapa aku tidak punya apa-apa padahal di saat yang bersamaan teman sebayaku telah mengumpulkan materi yang tak sedikit.

Dan jawaban dari semua pertanyaanku terjawab sudah.

Setengah-setengah.

Sepanjang enam belas tahun, dimulai dari hari dimana aku menginjakan kaki di sebuah bangunan bernama 'sekolah'  aku tidak pernah benar-benar mempunyai tujuan hidup.Tidak pernah benar-benar tahu, apa yang ingin kulakuakan, menjadi, seperti apa nanti dimasa yang depan. Ketika pagi dimulai, aku ingin segera dia berlalu dan berganti malam.Dan saat malam mulai datang, aku ingin cepat-cepat memburu pagi. Tanpa pernah tahu, sebenarnya apa yang kuinginkan dari percepatan waktu itu sendiri.

Cukup.
Hidupku berhenti di satu kata itu. Cukup makan, cukup tidur, cukup bermain, cukup belajar. Tak pernah ingin mengejar apapun, tak pernah ingin terlihat lebih, Lebih cantik, lebih pintar, lebih gaul. 
Semuanya benar-benar berhenti di kata cukup. Cukup dengan melakukan hal yang bisa dilakuakan, tanpa pernah memacu diri untuk berbuat lebih dari cukup. Padahal sebenarnya bisa. Aku bisa menjadi seseorang yang lebih dari 'AKU' sekarang seandainya dimasa yang sudah lewat itu aku melakukan semua hal seribu persen.

Aku menyukai pelajaran matematika, hanya saja sebatas 'suka' bukan cinta. Hanya bersemangat untuk rumus-rumus yang mudah dihafal. Menjawab soal matematika yang dimengerti tanpa pernah mencari jawaban dari soal yang sulit. Matematika-ku hanya berakhir di angka delapan pada sebuah kertas di akhir masa sekolah.

Aku menyukai buku. Tapi tidak mencintainya. Bacaanku hanya terbatas pada genre fiksi yang kusukai dan mengabaikan genre lainnya. Dan pada akhirnya, aku hanya berakhir menjadi pembaca saja. Tak beranjak selangkahpun. Kebodohanku, membawaku pada sebuah penyesalan di hari ini. 
'Harusnya dulu aku membaca buku sejarah.'
'Harusnya dulu aku membaca buku biografi.'
'Harusnya dulu aku membaca buku kumpulan puisi.'
'Harusnya dulu aku membaca buku sastra.'
'Harusnya dulu, aku tidak hanya membaca, tapi belajar menulis.'
Segala sesuatunya telah terlamabat sekarang. 

Aku belajar menari jaipong di  sekolah dasar. Hanya saja aku berhenti di kata 'cukup hadir di jam saat latihan tanpa pernah benar-benar menyukainya'. 

Aku belajar gamelan di sekolah dasar. Dan aku berhenti di alat gamelan yang paling mudah dikuasai. Tanpa pernah menjadi pemain gamelan yang penting untuk diajak tampil.

Aku mengikuti kegiatan organisasi saat sekolah menengah. Hanya saja aku berhenti di kata ' cuma ingin jadi anggota' tanpa pernah ingin menjadi pengurus didalamnya.

Aku penghafal yang cepat. Di tempatku belajar mengaji dulu, aku selalu unggul jumlah hafalan surat-surat pendek. Hanya saja, hafalanku hanya berhenti untuk menjadi unggul diantara kawan-kawanku di tempat itu saja. Cukup menjadi unggul di satu tempat saja.Tak pernah memacu diri untuk menjadi lebih unggul diluaran.

Aku bersekolah di sekolah kejuruan dengan jurusan akuntansi. Logikaku bisa diandalkan saat ada tugas untuk membuat sebuah laporan keuangan berdasarkan soal yang diberikan. Dan lagi-lagi aku hanya berhenti di kata cukup mendapat nilai delapan di kertas ijazah. 

Hidupku tak kemana-mana saat aku merasa cukup. 

Ada banyak hal yang kulakuakan berhenti di kata 'CUKUP'.
Dan aku baru menyadarinya, di sisi lain kata itu melumpuhkan ambisiku.

Tapi kali ini, aku tidak akan menggunakan kata itu lagi. Harus ada pencapaian 'LEBIH DARI CUKUP'.

Tidak berhenti di kata 'CUKUP MENULIS'
Harus berhenti di kata 'MENULIS UNTUK DITERBITKAN DAN BERMANFAAT'.