Rabu, 18 Mei 2016

Rindukan Aku Sesekali

Ingatlah aku sesekali saja
Tersebab rindumu tak selalu bisa kugenggam
Aku masih harus berpergian
Berkelana menjejaki impian

Tak usah kau temani perjalananku,
Sebab kau akan merasa kesepian.
Akan banyak sunyi yang harus kulewati.
Cukup katakan kau mendoakanku dalam hening malam
Memohon Tuhan menguatkan langkahku.

Akupun akan mengingatmu sesekali.
Saat pagi dan tetes embun belum beranjak pulang.
Bayangmu kulihat samar disana sebelum cahaya melumatkannya

Angin lembut berbisik di sela jari-jariku.
Aku tahu itu tanganmu yang sedang menggenggamku.

Tunggulah aku sampai habis perjalanan ini.
Jangan berpaling bahkan jika kau lelah.
Merindulah hanya jangan terlalu sering,
Karena itu bisa membuatku ingin pulang.

Perjalanan ini harus selesai,
Tak boleh terhenti sebab aku tak ingin mengulangnya dari semula.
Bantu aku untuk tidak banyak merindumu.

Jakarta, 19 Maret 2016
Terinspirasi lagu 'Sebelum Cahaya'


Sabtu, 30 April 2016

Pada Persimpangan

Kakiku berhenti di banyak persimpangan
Mataku jeli mengamati dimana ujungnya jalan
Pikirku menerka-nerka apa yang akan kutemui di sana

Entah berapa persimpangan aku lalui juga amati
Tak semua kujejaki meski hati ingin sekali
Sasar sudah pasti jika terlampau terlewati

Persimpangan-persimpangan
Aku selalu tertarik mengikuti arahnya meski tak punya tujuan-tujuan
Hanya berjalan dan terus berjalan hingga letih mendera memaksa berhenti lalu mencari jalan pulang

Dia.
Seseorang yang ingin aku tuju.
Telah menjadi genap bersama selain aku.
Tersesat aku menemukan jalan kembali.
Susah payah berputar;putar.
Belum sampai tempat pulang aku letih dan terhenti
Sial dia sulit kusuruh enyah.

Minggu, 21 Februari 2016

Dilema

ISurat Keduapuluhtiga
Hari Ke-23

Kepada
Biskuit Coklat

Dibanyak lelahku kau menemani dengan tulus. Memasrahkan dirimu habis.
Karenamu rasa lelah sedikit berkurang. Dan karenamu malam terasa jauh lebih sendu.
Kau menjadi candu di malam-malamku.
Hari ini, aku sedang dalam dilema. Harus memilih satu diantara dua. Menghadirkanmu di malam-malam berikutnya atau melemparkan selembar surat di dunia maya. Pilihan antara hasrat juga isi perut. Manakah yang lebih berat??
Jika aku memilihmu maka surat-suratku terhenti.
Jika dunia maya yang kupilih maka aku harus melewatkan malam-malamku dalam sepi yang panjang.

Lusa jika tak ada surat yang kulemparkan maka itu artinya aku lebih memilihmu. Biskuit cokelat

Jakarta, 22 Februari 2016
Dari penikmat baru

Sabtu, 20 Februari 2016

Aku Tetap Pada Keyakinan Yang Sama

Surat Keduapuluhdua
Hari Ke-22

Kepada
Gusti Alloh

Ya Rabbi,
Segala puji bagimu, Tuhan semesta alam.
Terimakasih untuk raga juga nyawa yang masih Kau percayakan padaku hingga detik ini. Terimakasih untuk jatung yang masih terus berdetak.
Terimakasih untuk paru yang masih bisa menghirup udara.
Terimakasih untuk sendi yang tetap berfungsi.
Terimakasih untuk nadi yang masih mengalirkan darah.
Terimakasih untuk semua anggota tubuh yang berfungsi dengan baik hingga hari ini.
Ampuni aku karena selalu lupa bahwa semuanya adalah nikmatMu. RezekiMu.
Ampuni aku yang senantiasa mengukur kasihMu hanya lewat uang.

Ya Rabbi,
Ampuni aku karena mengabaikan banyak perintahMu. Semoga  Kau masih berkenan memberiku usia untuk sebuah pertobatan.

Ya Rabbi,
Aku memohon padamu untuk membantuku menjaga keyakinan atas kuasaMu juga kekasihMu Muhammad S.A.W.
Jaga hatiku agar ia tetap mengimaniMu. Karena sungguh, Engkaulah yang menguasai hati ini.

Ya Rabbi,
Mohon bantu aku untuk bisa mengabaiakan khotbah-khotbah seorang 'nona' yang terus saja mencecarku dengan teorinya tentang Tuhan, agama juga Muhammad.
Beri aku keberanian untuk segera beranjak pergi dari sisi 'si nona' itu. Permudahkan jalannya.

Ya Rabbi,
Meski aku lalai dalam sembahyang wajib juga ibadah lainnya. Hatiku tetap punya keyakinan yang sama. Dua kalimat syahadat.
أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان
محمد رسول الله

"Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah."

Jakarta, 21 Februati 2016
Dari seorang hamba yang sedang lalai beribadah

Jumat, 19 Februari 2016

Jangan Terburu-buru

Surat Keduapuluhsatu
Hari Ke-21

Kepada Malam
Mengapa kau cepat sekali berlalu?
Tak bisakah kau bertahan sedikit lebih lama untukku?
Tubuhku terlalu lelah untuk menemui pagi dan sejumlah perintah.

Aku menyukaimu. Meski pandanganku yang terbatas makin terbatasi olehmu.
Meski kau pekat atau bergemuruh riuh oleh hujan serta petir sekalipun. Aku tetap lebih menyukaimu. Kau adalah penawar rasa lelah. Karenamu gelisah-gelisah di sepanjang siang menguap. Karenamu pagi terasa lebih syahdu. Karenamu pula senja menjadi kenangan.
Karenanya, bisakah kau disisiku lebih lama lagi?
Letihku belum usai dan sendiku terasa sangat ngilu. Lagi, pagi menyodorkan setampuk perintah. Jadi  kumohon janganlah terburu-buru beranjak pergi.

Jakarta, 20,Februari 2016
Dari seorang pesuruh yang letih

Kamis, 18 Februari 2016

Membelakangimu

Surat Keduapuluh
Hari Ke-20

Kepada
Langitku

Langitku.
Sore itu, saat aku bertemu denganmu aku langsung menyukaimu. Sangat. Yang kau tampakkan di hadapanku sungguh menakjubkan.Gumpalan awan-awan dengan ragam bentuk berbaris acak berwarna jingga.Matahari, aku tak tahu kau dimana. Mungkin sudah menghampiri laut. Kau yang berwarna biru entah jenis apa, terlihat sangat damai.

Sore itu langitku, aku baru saja kehilangan satu kesempatan berharga. Dan kau sempurna menjadi pengobat luka.
Hanya saja sayang. Karena aku harus berjalan menjauhimu juga membelakangimu.
Langitku. Situasi sore itu mengingatkanku pada seseorang. Lebih tepatnya perjalananku yang terpaksa harus berlawanan denganmu membuatku sedikit menyamakan sore itu dengan hidupku.

Tahukah kau? Langitku.
Aku sedang berjalan membelakangi kenangan. Hatiku terkadang rikuh ingin kembali kesana. Tapi kepalaku berkata itu adalah pilihan yang buruk. Tidak beranjak berarti kamu mati. Begitu katanya.
Aku tidak rindu. Tidak juga patah hati. Tapi ada rasa yang entah apa namanya. Aku belum menemukan jawaban.

Langitku. Sungguh aku tak beruntung sore itu. Hilang sudah senja mengagumkan dari pandangan mataku.
Mengapa aku mudah sekali kehilangan bahkan ketika aku belum sempat memilikinya?

Jakarta, 19 Februari 2016
Dari seorang yang kehilangan 'sempat'

Surat Pertama Kepada Kamu

Surat Kesembilanbelas
Hari Ke-19

Kepada
Kamu
(Seorang jodoh yang belum di pertemukan Tuhan)

Ini surat pertama untuk kamu. Aku sudah kehabisan orang yang bisa kukirimi surat. Itulah kenapa surat untukmu kutulis lebih cepat.

Kamu. Jodohku. Seorang pria yang aku belum tahu siapa. Aku ingin menulis beberapa surat untukmu selagi kita menunggu takdir mempertemukan. Kelak jika kita sudah menjadi satu aku akan tunjukan surat-surat ini padamu.
Lihatlah!! Betapa romantisnya aku bukan?

Kamu. Aku akan memanggilmu demikian untuk saat ini.
Seperti apakah rupamu? Watakmu?
Bagaimana wajahmu saat marah? Bersedih? Samakah?
Aku penasaran sekali.

Aku tak bisa mengatakan rindu padamu. Jadi aku hanya akan bercerita saja. Tentang aku.

Pertama.
Aku. Menyukai buku. Itu hal pertama yang ingin kuberitahukan padamu. Kelak saat kita bersama jangan bosan jika aku terus memintamu menemaniku mencari buku. Dan mohon bersabar menungguku memilih.

Surat-surat yang akan aku tuliskan untukmu hanyalah berupa cerita sederhana tentang aku. Semoga kamu tidak berkeberatan membacanya.

Jakarta, 18 Februari 2016
Dari seorang perempuan yang menunggu kamu